Menghabisi Terorisme ???Ah…gak yakin !!!!

Posted on Agustus 28th, 2009 in Uncategorized by botaksakti  Tagged ,

Perburuan teroris kembali menghangat dengan penangkapan Jibril. Komisi I DPR pun berreaksi. Bahkan, seorang anggotanya “menyalak-nyalak” dengan keras. Entah ia mau jadi pahlawan bagi siapa, tidak jelas.

Melihat kenyataan seperti itu, kalau ada yang mengatakan “yakin” bahwa terorisme dapat ditumpas habis, saya kok kurang sependapat. Nol besar kalau terorisme dapat dibabat habis !Mengapa demikian ?

Salah satu yang tampak dari fenomena terorisme adalah “sepertinya” energi mereka tidak habis-habis. Patah tumbuh hilang berganti.babat sini, muncul di sana. Sulit dibayangkan, bagaimana menggulung mereka itu yang jumlahnya ternyata jauh dari dugaan. Entah berapa biaya yang harus dikeluarkan untuk menggulung mereka.

Namun, agaknya kita lupa. Ilmu pengetahuan telah memberikan jalan keluar yang mungkin bisa digunakan. Masih ingat soal hukum “kekekalan energi” ?Bahwa energi tidak bisa diciptakan dan tidak bisa dimusnahkan?Nah, agaknya untuk mengatasi terorisme hukum ini bisa membantu. Jangan pernah membayangkan energi terorisme bisa dimusnahkan, tapi mungkin kitabisa mengubahnya ke dalam aplikasi yang lain. Bayangkan kalau “energi terorisme” itu kita ubah menjadi “energi patriotik,energi kemanusiaan,energi cinta kasih…dan energi-energi positif lainnya ?

Kehormatan Itu Milik Mereka yang Memberi Hormat

Posted on Agustus 26th, 2009 in Uncategorized by botaksakti  Tagged , ,

“Ijin, Mas . Saya di depan rumah, mohon bertemu.Terimakasih !”

————————————————–

Kalimat di atas saya salin dari sms yang masuk ke hp saya, tadi malam pukul 22.00.Pengirimnya adalah seorang anggota TNI berpangkat Kopda (kopral dua).

Begitu saya bukakan pintu, dua orang teman yang sudah saya kenal memang sudah berada di halaman depan rumah saya. Keduanya anggota TNI, yang usianya jauh lebih muda dari saya. Dengan didahului memberi hormat ala militer, kedua orang itu menyambut uluran jabat tangan saya.

saya kikuk, karena saya hanya seorang guru SMA biasa. Hanya kebetulan usia saya lebih tua dari mereka. Akan tetapi, mendapat perlakuan seperti itu dari mereka, sungguh hati saya tersentuh. Dan tanpa sadar saya ternyata menimpan pengjormatan yang begitu dalam kepada mereka, bukan karena seragamnya tapi karena tingkah lakunya.

Lalu saya berpikir, andai sikap seperti itu terbawa sampai mereka menjadi pimpinan nantinya…..pasti luar biasa. Ternyata, kehormatan itu tidak terletak pada tingginya pangkat atau jabatan, tetapi terletak pada kemampuan membawa diri sendiri. Mereka, tentara “kroco” itu ternyata dapat menyedot hormat saya lebih besar daripada saya menghormati pimpinan-pimpinan mereka yang pangkatnya lebih tinggi.Bravo TNI !!!!!

Menyongsong Pendidikan yang Humanis

Posted on Agustus 25th, 2009 in Uncategorized by botaksakti  Tagged ,

Beberapa hari yang lalu, seorang anak SMA yang bernama She, blogger detik juga, , meledakkan kepenatannya menempuh pendidikan melalui sebuah tulisan yang berjudul “Whatt ????Reformasi Pendidikan dst……”. Dengan kalimat yanglugas khas anak-anak (aslinya memang “pecicilan”) ia menceritakan betapa mengesalkannya pendidikan yang harus ia jalani.

Lontaran anak SMA di atas, mengindikasikan bahwa ada yang tidak beres dengan dunia pendidikan kita. Betapa proses belajarmengajar hanya menghadirkan tekanan yang luar biasa kepada para pelakunya. Kalau mau jujur, sebenarnya bukan hanya siswa yang mengalaminya, tetapi juga guru-gurunya. Guru-guru yang memiliki idealisme dalam mengajar dan bukan sekedar menghabiskan waktu dan terima gaji, tentu akan sangat tersiksa dengan plot pengajaran yang dirancang pihak berwenang.

Sebenarnya, persoalan yang menjadi duri dalam pendidikan tersebut bukanlah berada pada tataran pusat, tetapi justru berada di level daerah. Banyak sekali perangkat pendidikan di tingkat daerah yang sebenarnya tidak menguasai makna sebenarnya tentang pendidikan. Mereka lebih asyik dengan pemahaman birokrasinya. Akibatnya, apa yang sudah dirancang dari pusat bisa saja menjadi lain dalam penerapan di daerah.

Melihat persoalan itu, ada baiknya bila kita menengok sebuah teori pendidikan yang dikemukakan oleh Prof. Driyarkara, bahwa pendidikan adalah sebuah upaya untuk memanusiakan manusia muda. Berdasarkan pengertian ini, maka pendidikan harus dipandang sebagai sebuah proses pendampingan dan bukan penghakiman. Pendidikan adalah sebuah upaya pembebasan dan bukan penindasan. Dengan demikian, pendidikan hendaknya dilakukan dalam suasana yang humanis sehingga menghasilkan pula pribadi-pribadi yang humanis.

Agaknya, era pendidikan yang demikian itu akan segera terjadi. Bergantinya pemerintahan dengan pemerintahan baru cukup memberi harapan. Walaupun presidennya tetap, tetapi menurut kabar yang santer beredar Mendiknasnya akan ganti wajah baru dengan menghadirkan sosok yang lebih “humanis”, yaitu Anis Baswedan. Andai ini benar terjadi, kita patut berharap pendidikan tak lagi penuh dengan hitung-hitungan laba-rugi, seperti yang terjadi selama ini.Trims !Salam buat She….dan semua pecinta pendidikan !

Meraih Indonesia….Lagi

Posted on Agustus 7th, 2009 in Uncategorized by botaksakti  Tagged

Sajak “Sebatang Lisong” yang kembali diperdengarkan saat meninggalnya WS. Rendra, rasanya sangat “pas” dengan situasi bangsa ini. Meski sajak itu ditulis tahun 77 tetapi untuk masa kinipun tampaknya harus diakui masih cukup mewakili.

Sedih memang menyaksikan bangsa ini yang dibanjiri produk impor. Dari bahan makanan sampai “kebijakan”, bau impor begitu menyeruak. Ada di antara kita yang berlomba dan gigih berusaha menegakkan sebuah paham yang sebenarnya bukan asli bangsa kita, padahal kita sendiri memiliki yang serupa bahkan lebih sesuai untuk keadaan kita. Keberagaman kita yang sesungguhnya berkah, justru sering dianggap sebagai jalan untuk mencari kuasa.Sayangnya, hal itu ditempuh dengan mengadu keberagaman itu.

Kesedihan itu semakin dalam manakala kita menyaksikan berapa banyak anak bangsa ini yang gelar akademiknya berderet-deret, tetapi tak satupun karya mereka yang secara nyata mampu membelokkan arah masyarakat dari masyarakat konsumtif ke masyarakat produktif. bahkan, banyak dari kita yang begitu bangga “hanya” dengan predikat itu. Sebut misalnya, mereka yang membentuk “gerombolan” motor tertentu, bukankah itu sebenarnya hanya “budak” dari kapitalisme?

Sepantasnya kita sadari semua itu sebagai faktor yang menjadi kendala kemajuan bangsa ini. Tak sepantasnya kita hanya berserah menjadi bangsa yang menikmati kemajuan, melainkan harus bangkit sebagai bangsa yang berperan dalam kemajuan. Bangkit, dan mari raih….lagi …Indonesia kita !!!!

Main-main ke Kolong Langit

Posted on Juli 30th, 2009 in Uncategorized by botaksakti

seorang anak kecil dengan satu setengah kakinya
terhenyak menatap
pada rangkaian gedung menjulang
dan di benaknya ia bertanya
rumah siapa itu
lalu kepalanya melongok
ke dalam sisi hidupnya
yang kelam
dan ia bertanya
siapa di sana
air matanya menetes
menjangkau langit
mengaduk samudera penegrtian
yang menghitam
karena dendam
(untuk mereka yang buta hati)

Agar iB Syariah Tidak Layu Sebelum Berkembang

Posted on Juli 4th, 2009 in Uncategorized by botaksakti

iB Syariah hingga saat ini terus menunjukkan perkembangan yang menggembirakan. Banyak kalangan yang sebelumnya berkecimpung di dunia perbankan konvensional, berbondong-bondong beralih ke iB Syariah. Sebuah gambaran yang menarik dan menggembirakan kita semua tentunya.

Akan tetapi, hal itu tentu tidak boleh menjadikan para pelaku iB Syariah takabur dan menjadi lengah. Ada pepatah, sesuatu yang gampang didapat atau cepat berkembang akan dapat pula dengan mudah hilang atau terpuruk. Tentu, hal seperti itu bukanlah harapan kita semua. iB Syariah telah nyata-nyata menjadi “penolong” yang mampu menghindarkan kita dari krisis ekonomi, bahkan krisis global sekalipun. Untuk itu, ada beberapa hal yang penting diperhatikan oleh para pelaku perbankan syariah dan tentu saja juga masyarakat pada umumnya.

Merugi dan Merugikan

Salah satu sebab mengapa iB syariah begitu menarik perhatian banyak orang untuk beralih adalah adanya paradigma “merugi dan merugikan” yang berbeda dengan perbankan konvensional. Dalam perbankan konvensional nasabah sering diposisikan sebagai pihak yang harus “sendirian” menanggung rugi bila bank yang bersangkutan menanggung kerugian. Kasus terakhir yang menimpa salah satu bank yang membuat para nasabahnya stress sehingga sampai menari-nari di atas kap mobil agaknya cukup untuk menjelaskan itu. Bank tidak mau tahu bila nasabah harus menanggung kerugian sendiri karena merasa sudah memberikan tawaran bunga yang cukup tinggi. Tawaran bunga yang tinggi tentu saja manjur untuk manarik mereka yang termasuk ke dalam golongan orang-orang “maruk” sehingga tidak memperhitungkan kemungkinan lain yang bisa terjadi. Namun, tentu saja ini bukan semata-mata kesalahan nasabah karena memang tidak ada pilihan lain pada waktu itu.

Berbeda dengan bank konvensional, bank syariah tidak menawarkan bunga yang terlalu tinggi. Bahkan, tidak ada istilah “bunga” di sana karena “bunga” dianggap riba dan haram hukumnya.Sebagai alternatif maka kemudian ditawarkanlah konsep “bagi hasil” yang nyata-nyata menghindarkan para pelakunya dari tindak spekulatif sejak dini. Secara logika, konsep ini betul-betul sangat mengena. Perbankan syariah ibarat menjalin sebuah kerja sama untuk mencapai tujuan bersama dengan masing-masing pihak memiliki resiko yang sama dan akan mendapatkan hasil yang sama

pula bila ternyata usahanya berhasil. Ini tentu lebih terasa nuansa keadilannya. Dengan kata lain, kalau rugi maka akan sama-sama merugi, kalau untung maka akan sama-sama merasakan untungnya. Artinya, tidak ada celah yang bisa membuat salah satu pihak merugikan atau dirugikan oleh pihak lain.

Mental SDM

Betapapun baiknya sebuah konsep namun bila tidak dilaksanakan sesuai aturan mainnya, bukan tidak mungkin justru akan menghasilkan sesuatu yang jauh dari harapan. Demikian pula dengan iB Syariah ini, yang secara konsep sangat sempurna karena merupakan konsep Illahi, tentu tidak akan berjalan baik bila dilakukan oleh orang-orang yang tidak baik.

Agar iB syariah dapat berjalan dengan baik dan membawa manfaat yang baik pula maka harus dilaksanakan oleh orang-orang yang memang memiliki kemampuan baik operasional maupun mental. Secara operasional artinya memiliki kemampuan mengelola perbankan dari sisi teknis, secara mental artinya terjaga moralnya untuk tidak mengubah atau menyiasati aturan-aturan dalam iB syariah demi kepentingan sendiri.

Kejahatan terjadi karena adanya niat dan kesempatan. Agar tidak terjadi kejahatan dalam iB syariah, maka para pelakunya harus melakukan kontrol ketat atas niat masing-masing. Selain perekrutan yang baik bagi para pegawainya, masyarakat nasabah juga harus menjaga agar tidak tergiur oleh iming-iming dan perilaku di luar prinsip-prinsip syariah. Masing-masing harus menjaga itikadnya agar apa yang dinginkan dapat tercapai. Bila semua itu dapat dilakukan maka niscaya iB syariah tidak akan “layu sebelum berkembang” dan dapat terus berkembang menjadi “ikon” perekonomian modern yang melegakan banyak pihak.

Share on Facebook Share on Twitt

Menjadikan Perbankan Syariah sebagai Yang Pertama

Posted on Juni 18th, 2009 in Uncategorized by botaksakti  Tagged , ,

Perbankan syariah dengan cepat menunjukkan perkembangan yang menggembirakan. Hampir di setiap tempat kita dapat menemukan counter-counter yang memadai. Bahkan, bank-bank besar juga sudah banyak mengembangkan perbankan model ini.

Pesatnya perkembangan perbankan syariah seperti di atas tentu tidak terlepas dari nilai lebih yang dimilikinya. Salah satu yang menonjol dari nilai lebih tersebut adalah bahwa di perbankan syariah, nasabah tidak sendirian. Seandainya terjadi kerugian, nasabah dijamin tidak akan menjadi pihak yang paling dirugikan. Kerugian yang sama juga akan dirasakan pihak bank. Jadi, menjadi nasabah di perbankan syariah memungkinkan seseorang merasakan keadilan yang seharusnya.

Lingkup

Perkembangan perbankan syariah yang menggembirakan tentu harus disikapi dengan baik. Bila tidak hal ini akan menjadikan pada suatu titik, perkembangan itu akan mengalami stagnasi. Maksud saya, label “syariah” sebagai mana kita tahu cenderung membatasi lingkupnya hanya pada kalangan muslim saja. Padahal, pasar yang tersedia tidak hanya itu, masih banyak golongan non-muslim yang dapat dijangkau. dari pembicaraan saya dengan beberapa teman, yang kebetulan nonmuslim, mereka secara dasar tertarik dengan konsep perbankan syariah. Hanya saja, mereka terkendala secara “mental” dengan label “syariah” tersebut.

Kendala di atas tentu harus disikapi dan dipahami secara jernih. Kurang bijak rasanya bila serta merta kalangan perbankan syariah menanggapi dingin persoalan tersebut misalnya dengan pernyataan “keikutsertaan seseorang dalam sistem ini tidak ada paksaan, kalau mau ikut ya silakan kalau tidak ya tidak apa-apa”.

Ada baiknya kalangan perbankan syariah mulai mencari terobosan yang bisa melegakan semua pihak untuk menampung keinginan itu. Andai label syariah itu ditanggalkan namun secara content tetap sama, saya yakin pasar perbankan syariah akan semakin luas dan berkembang. Tanpa label “syariah” memungkinkan semua kalangan bisa mengaksesnya tanpa kendala baik secara teknis maupun moral.

Penting

Perbankan syariah penting untuk dikembangkan karena daya tahannya yang luar biasa terhadap krisis. Andai perbankan syariah mampu bercokol di negeri ini, bahkan mampu menggantikan perbankan konvensional maka niscaya perekonomian kita akan semakin kokoh. Hal ini tentu saja positif bagi bangsa ini.

Bagi siapapun, kiranya konsep syariah penting untuk terus dikembangkan. Selain tahan krisis konsep ini juga menghindarkan nasabahnya dari dirugikan dan merugikan orang lain. Walaupun tanpa embel-embel konsep dosa, namun hal ini tentu saja secara otomatis akan menenangkan hati nurani kita.

Tantangan

Pengembangan perbankan syariah seperti diuraikan di atas, tentu bukan tanpa tantangan. Bagi sebagian kalangan, mungkin akan berpendapat apapun alasannya label “syariah” tidak boleh dihilangkan karena konon berkaitan dengan keyakinan. Perlu penjelasan yang sabar untuk hal ini.

Perlu dipahami bahwa label “syariah” dalam perbankan tentu bukan berarti adanya muatan tatacara ibadah di dalamnya. Konsep tersebut semata-mata hanyalah untuk membedakan dengan konsep perbankan konvensional. Dalam perbankan syariah aturan main yang dipakai didasarkan pada petunjuk wahyu, yang diyakini mampu “mengcover” permasalahan-permasalahan manusia. Bukankah konsep wahyu bersumber dari keilahian yang berarti bernuansa kesempurnaan ?

Pertama

Andai akses perbankan syariah bisa dibuka seluas-luasnya untuk semua golongan masyarakat, saya yakin perbankan syariah akan menjadi pilihan pertama dan bahkan utama bagi masyarakat. Bila itu terjadi, maka perekonomian bukan tidak mungkin akan berjalan dengan lembut, menyenangkan bagi semua, dan keadilan akan benar-benar terasa. Konsep perbankan syariah sampai saat ini sudah mampu menampilkan sosok yang tidak lagi “menyeramkan” dari terminologi “syariah”, namun rupanya belum sepenuhnya membebaskan jalan bagi kalangan nonmuslim untuk memutuskan menjadi penggunanya. Jadi, tunggu apa lagi ?

Penciptaan ; sebuah Kata Kunci

Posted on Mei 25th, 2009 in Uncategorized by botaksakti  Tagged , ,

Ketika Sutan Takdir Alisjahbana menulis roman Layar Terkembang, banyak orang terhenyak. Ide dan kritiknya membuka banyak mata bangsa kita, bahwa sesungguhnya kita “sedang” tertinggal oleh bangsa lain.Dan, ia menyodorkan sebuah solusi yaitu kita harus mencari bahkan “mencuri” pengetahuan dari bangsa barat. Maka, meski ada pro kontar, tapi tak sedikit komponen bangsa yang beradu cepat menempuh pendidikan di luar negeri untuk melaksanakan sarannya itu.

Sementara itu, entah berapa tahun kemudian, kita juga digegap-gempitakan dengan banyaknya anak bangsa yang berhasil menjuarai olimpiade sains. Keberhasilan ini mendatangkan berbagai pujian dan optimisme akan kemampuan bangsa ini menjadi sejajar dengan bangsa lain. Tapi apa lacur, budaya ternyata hal itu hanya kembali seperti biasanya, yaitu tidak ada tindak lanjutnya. Lomba-lomba itu hanya menjadi semacan ritual belaka. Kebanggaan yang menggema, hanyalah semu belaka. Bahkan, meski pemerintah mengucurkan banyak beasiswa dan perhatian besar kepada perintisnya, toh fakta di depan mata menunjukkan bahwa kita belum mampu menghasilkan apa-apa. Seorang teman pernah berseloroh, jarumpun buatan Cina !

Belakangan, muncul sebuah kejutan yang kiranya menjadi “hawa” sejuk atas kekeringan harga diri bangsa. Dan, celakanya, kejutan itu justru muncul dari anak-anak SMK yang selama ini seperti terpinggirkan. Mereka berhasil menciptakan prototif mobil yang betul-bewtul buatan Indonesia. Artinya, mereka tidak sekedar merakit tapi memnciptakan. Yang mengherankan, ke mana para insinyur kita ? Ke mana para ahli kita yang berkubang di jalur perguruan tinggi ? Ke mana para juara olimpiade sains itu ?Salut empayt jempol untuk siswa-siswa SMK !!!!!

Haruskah Jadi Presiden ?

Posted on Mei 20th, 2009 in Uncategorized by botaksakti  Tagged , ,

Setelah menunggu dan menunggu siapa pasangan yang akan maju sebagai capres dan cawapres, akhirnya muncul juga mereka yang akan maju. Babak berikutnya adalah diungkapkannya kekayaan mereka masing-masing. Yang paling miskin kekayaannya “hanya” sekitar 7 milyar, sedangkan yang terkaya mencapai 1,7 trilyun.Nah, fakta itu membuat kita bertanya, apa yang sudah mereka lakukan dengan kekayaan sebesar itu ? Mengapa untuk berbuat sesuatu harus menunggu menjadi presiden dan wapres dulu ? Andai harta tersebut digunakan untuk membantu masyarakat tanpa harus menunggu jadi presiden atau wapres, barangkali tidak perlu rakyat bangsa ini ada yang mati karena kelaparan, gizi buruk, dll. Sakit rasanya melihat kekayaan yang begitu besar dipampangkan di depan mata, sementara untuk makan esok saja belum terlintas di kepala !

Haruskah Aku Memilih ?

Posted on Mei 15th, 2009 in Uncategorized by botaksakti  Tagged ,

Saat senja hampir berlalu, malam kembali menjemput. Aku tergugu sepi di pojok rumah pengharapan. Terang yang belum lama pergi mengajakku melayang mangayuh mimpi. Seekor musang merambat di antara daun dan sulur - sulur pengertian. Percayakah kau, pada suatu titik aku harus memilih?Tapi, andai aku tak memilih ?Ah,kubiarkan diriku mengalir dingin bersama mengalirnya sepoi-sepoi mimpi. Mimpi tentang bangsa ini !

Halaman Berikutnya »