Apa yang Kau Cari Anakku?
Sebagai guru, pernahkah kita bertanya seperti judul di atas sebelum memulai PBM kita? Beberapa mungkin sudah, namun tak jarang di antara kita sering lupa melakukannya atau bahkan tak tahu bahwa hal itu penting dilakukan.Mengapa dan bagaimana seharusnya?
Pendidikan, menurut Driyarkara, adalah sebuah upaya untuk memanusiakan manusia muda. Ini memberi arah bahwa yang kita lakukan di ranah pendidikan adalah memberi makna bagi manusia lainnya untuk menunjukkan kemanusiaannya. Dalam hal ini, manusia menjadi kawan bagi manusia lainnya(homo homini socius).
Pendapat di atas memaknakan bahwa yang kita hadapi adalah manusia yang punya kehendak. Siswa sebagai manusia yang punya kehendak dan kita, guru, adalah teman siswa yang membantunya mencapai kehendaknya. Meski masing-masing siswa boleh dikata memiliki kehendak masing-masing(karena sifat manusianya yang otonom), namun secara umum mereka berada dalam kerangka kehendak untuk mengembangkan potensinya dan meraih jati dirinya.
Kehendak siswa sebagai manusia itulah yang kemudian dirumuskan oleh pemerintah sebagai pemegang kebijakan sebagai tujuan pendidikan dalam kurikulum. Maksudnya tak lain tak bukan adalah memberikan pedoman secara umum untuk pelaku pembelajaran yang berada di garis depan. Sayangnya, tidak semua memahami maksud tersebut sebagaimana mestinya. Guru kadang terjebak perasaan bahwa dia hanya sebagai operator saja dalam bidang pendidikan. Perasaan ini, langsung atau tidak, sering mengakibatkan terbunuhnya kreasi dan inovasi dalam PBM. Guru sering terjebak hanya semata melaksanakan kurikulum secara mentah. Padahal, kurikulum memberi ruang untuk daya kreasi dan inovasi tersebut. Akibatbat ekstremnya, dalam melaksanakan tugasnya guru sering hanya menjejalkan isi kurikulum tanpa memperhatikan apa yang diinginkan siswa. Apalagi, beberapa guru bahkan hanya mengandalkan buku cetak pasokan penerbit yang kadang isinya jauh dari kekinian. Ini menyebabkan siswa menjadi kurang antusias untuk terlibat dalam PBM.
Lantas bagaimana seharusnya?
Langkah yang sangat penting dan menentukan adalah guru hendaknya membebaskan diri dari stigma ‘operator’ pendidikan. Ia memiliki peran yang jauh lebih penting daripada itu. Guru adalah pembentuk, pengubah dan penyelaras sisi manusia muda menjadi manusia seutuhnya.Dengan begitu, guru akan terdorong oleh dirinya sendiri untuk bergerak lebih dinamis dalam menjalankan tugasnya. Seiring dengan itu, orientasinya juga akan berubah dari sekedar menghabiskan materi menuju ke pemuliaan anak didiknya.
Guru hendaknya selalu bertanya tentang apa yang ingin dicari/dicapai oleh anak didiknya. Tentu ini bukan berarti guru harus menanyakan kepada anak didiknya satu persatu. Guru bisa melakukannya dengan melemparkan pertanyaan pancingan atau bahkan dengan melihat goresan-goresan anak didiknya dalam berbagai media. Ingat, kini kita tidak lagi berada pada zaman batu sehingga kita bisa menemukannya dengan mudah. Anak-anak kita bisa saja(bahkan kebanyakan )mencurahkan keinginan-keinginannya itu di berbagai media social. Inilah pentingnya guru harus melek internet. Dengan begitu, guru bisa meraba atau mengendus keinginan anak didiknya dengan lebih baik. Bila ini bisa dilakukan, maka tugas guru akan semakin mudah karena guru bisa memberikan materi hanya yang sesuai dengan kebutuhan siswa.
Bertautnya antara kebutuhan dengan asupan tentu sangat berarti dalam pencapaian tujuan. Inilah yang hendaknya selalu diupayakan guru dalam melakukan tugas pendidikanya. Bila ini terjadi, niscaya PBM kita bisa berjalan lancar, hidup, dan dipenuhi antusiasme pelaku-pelakunya. mari lakukan perubahan kecil untuk menuju pendidikan yang lebih baik. Salam pendidikan!
@Tulisan ini juga bisa dibaca di http://guraru.org
