Anakku Bicara Cinta: Bolehkah?

Posted on Januari 24th, 2012 in Uncategorized by botaksakti  Tagged , ,

Seorang rekan guru bercerita(sedikit mengeluh sebenarnya). Menurutnya para siswanya ketika diminta mengarang banyak yang malas-malasan. Apalagi bila tema yang ia sodorkan berbau ilmiah. Akan tetapi, kejadiannya menjadi sangat berbeda bila temanya berkisar tentang cinta. Oh, ya, ia mengajar di sebuah SMA daerah pinggiran Jakarta. Ketika tema yang disodorkannya seputar cinta, maka siswa-siswnya menjadi sangat bersemangat. Dan menurutnya, persoalan yang muncul menjadi begitu ragam. Apakah hal itu harus dihentikan atau dibiarkan?

Memang, siswa SMA yang notabene sedang menginjak dewasa tidak bisa lepas dari persoalan cinta.Boleh dikata usia mereka memang sedang berada pada tahap ‘sengit-sengit’nya bila dihadapkan pada soal cinta. Maka bukan hal aneh bila mereka begitu antusias dan seperti memiliki begitu banyak inspirasi dan pandangan tentang cinta. Ada yang mengatakan bahwa seorang yang sedang jatuh cinta bisa tiba-tiba menjadi penulis bahkan pujangga yang sangat produktif. Apapun perasaannya, apapun yang dilihatnya, dan apapun yang didengarnya bisa menjadi inspirasi. Perasaan mereka meletup-letup seperti magma yang ingin keluar dari perut bumi.

Perlu disadari bahwa menghentikan dengan serta merta keinginan anak-anak itu menuliskan perasaannya sama saja dengan membunuh bibit kreativitasnya. Ibarat menimbun api yang baru menyala dengan segunung pasir. Daya kreativitas mereka seolah dipaksa untuk dipendam dalam kalbu mereka. Dan ini berbahaya. Mereka akan meraa tidak dihargai. Bila ini terjadi sudah tentu para siswa itu akan menjadi tidak respek dengan guru, lebih-lebih mereka juga akan menjadi tidak respek dengan inspirasinya sendiri.

Oleh karena itu, kita sebagai guru hendaknya tidak begitu saja mencela atau memaksa mereka menghentikan keiginannya itu. Kita harus memberikan ruang bagi mereka untuk mengeluarkan perasaannya. Kasarnya, biarkan mereka ‘memuntahkan’ dulu isi kepalanya. Baru nanti kita pelan-pelan mengarahkan mereka untuk menuliskan perasaannya dengan kalimat-kalimat yang lebih berbobot. Seiring meningkatnya ketrampilan mereka menyusun kalimat yang mampu menjelaskan isi hatinya, pelan-pelan kita juga dapat untuk mengajaknya berpikir tentang yang lain atau menulis dengan tema lainnya.

Teknik seperti tersebut di atas, kiranya sngat baik untuk dijalankan. Siswa menjadi begitu terbuka karena merasa diterima, terutama buah pikirannya. Hal ini akan memicu rasa percaya terhadap gurunya dan selanjutnya akan terjalin komunikasi dan saling menghargai yang tinggi antara siswa dan guru. Bukankah ini kunci pembelajran yang efektif? Silakan dicoba!

@Tulisan ini juga bisa dibaca di http://guraru.org

Apa yang Kau Cari Anakku?

Posted on Januari 23rd, 2012 in Uncategorized by botaksakti  Tagged

Sebagai guru, pernahkah kita bertanya seperti judul di atas sebelum memulai PBM kita? Beberapa mungkin sudah, namun tak jarang di antara kita sering lupa melakukannya atau bahkan tak tahu bahwa hal itu penting dilakukan.Mengapa dan bagaimana seharusnya?

Pendidikan, menurut Driyarkara, adalah sebuah upaya untuk memanusiakan manusia muda. Ini memberi arah bahwa yang kita lakukan di ranah pendidikan adalah memberi makna bagi manusia lainnya untuk menunjukkan kemanusiaannya. Dalam hal ini, manusia menjadi kawan bagi manusia lainnya(homo homini socius).

Pendapat di atas memaknakan bahwa yang kita hadapi adalah manusia yang punya kehendak. Siswa sebagai manusia yang punya kehendak dan kita, guru, adalah teman siswa yang membantunya mencapai kehendaknya. Meski masing-masing siswa boleh dikata memiliki kehendak masing-masing(karena sifat manusianya yang otonom), namun secara umum mereka berada dalam kerangka kehendak untuk mengembangkan potensinya dan meraih jati dirinya.

Kehendak siswa sebagai manusia itulah yang kemudian dirumuskan oleh pemerintah sebagai pemegang kebijakan sebagai tujuan pendidikan dalam kurikulum. Maksudnya tak lain tak bukan adalah memberikan pedoman secara umum untuk pelaku pembelajaran yang berada di garis depan. Sayangnya, tidak semua memahami maksud tersebut sebagaimana mestinya. Guru kadang terjebak perasaan bahwa dia hanya sebagai operator saja dalam bidang pendidikan. Perasaan ini, langsung atau tidak, sering mengakibatkan terbunuhnya kreasi dan inovasi dalam PBM. Guru sering terjebak hanya semata melaksanakan kurikulum secara mentah. Padahal, kurikulum memberi ruang untuk daya kreasi dan inovasi tersebut. Akibatbat ekstremnya, dalam melaksanakan tugasnya guru sering hanya menjejalkan isi kurikulum tanpa memperhatikan apa yang diinginkan siswa. Apalagi, beberapa guru bahkan hanya mengandalkan buku cetak pasokan penerbit yang kadang isinya jauh dari kekinian. Ini menyebabkan siswa menjadi kurang antusias untuk terlibat dalam PBM.

Lantas bagaimana seharusnya?

Langkah yang sangat penting dan menentukan adalah guru hendaknya membebaskan diri dari stigma ‘operator’ pendidikan. Ia memiliki peran yang jauh lebih penting daripada itu. Guru adalah pembentuk, pengubah dan penyelaras sisi manusia muda menjadi manusia seutuhnya.Dengan begitu, guru akan terdorong oleh dirinya sendiri untuk bergerak lebih dinamis dalam menjalankan tugasnya. Seiring dengan itu, orientasinya juga akan berubah dari sekedar menghabiskan materi menuju ke pemuliaan anak didiknya.

Guru hendaknya selalu bertanya tentang apa yang ingin dicari/dicapai oleh anak didiknya. Tentu ini bukan berarti guru harus menanyakan kepada anak didiknya satu persatu. Guru bisa melakukannya dengan melemparkan pertanyaan pancingan atau bahkan dengan melihat goresan-goresan anak didiknya dalam berbagai media. Ingat, kini kita tidak lagi berada pada zaman batu sehingga kita bisa menemukannya dengan mudah. Anak-anak kita bisa saja(bahkan kebanyakan )mencurahkan keinginan-keinginannya itu di berbagai media social. Inilah pentingnya guru harus melek internet. Dengan begitu, guru bisa meraba atau mengendus keinginan anak didiknya dengan lebih baik. Bila ini bisa dilakukan, maka tugas guru akan semakin mudah karena guru bisa memberikan materi hanya yang sesuai dengan kebutuhan siswa.

Bertautnya antara kebutuhan dengan asupan tentu sangat berarti dalam pencapaian tujuan. Inilah yang hendaknya selalu diupayakan guru dalam melakukan tugas pendidikanya. Bila ini terjadi, niscaya PBM kita bisa berjalan lancar, hidup, dan dipenuhi antusiasme pelaku-pelakunya. mari lakukan perubahan kecil untuk menuju pendidikan yang lebih baik. Salam pendidikan!

@Tulisan ini juga bisa dibaca di http://guraru.org

Live Posting: Menyenangkan, lho!

Posted on Januari 20th, 2012 in Uncategorized by botaksakti

Internet memang benar-benar membuka kemungkinan mengkreasikan pembelajaran secara luar biasa. Kita bisa dengan mudah memanfaatkannya untuk menyediakan fasilitas belajar yang atraktif, menarik, dan menyenangkan bagi siswa. Bukan itu saja, PBM dengan internet mampu menyediakan tantangan yang menggoda untuk mereka.

Dua hari yang lalu, saya mencoba menggunakan internet dalam bentuk ‘live posting’. Internet saya hadirkan di kelas dan siswa saya ajak untuk membuat blog pribadi. Setelah pembuatan blog selesai langsung dilanjutkan dengan ‘live posting’ oleh salah seorang siswa.

Apa dan bagaimana ‘live posting’ itu? Istilah itu sebenarnya saya dapat dari anak-anak yang secara spontan meneriakkannya di tengah acara yang mereka jalani. Intinya, ‘live posting’ adalah memosting tulisan ke blog atau media Sosmed lainnya oleh seorang siswa dengan disorotkan ke layar proyektor sehingga siswa lainnya bisa melihat secara langsung proses itu. Kata per kata yang dituliskan terbaca oleh siswa lainnya di layar lebar.

Kegiatan mengamati seorang siswa menuliskan kata per kata di blog pribadinya ternyata membuat proses belajar begitu hidup. Tak jarang siswa yang menyaksikan tertawa kecil ketika melihat munculnya satu kata atau kalimat yang tidak terduga. Bahkan tepuk tangan juga muncul bila ternyata kata atau kalimat yang muncul mereka nilai sangat menarik. Indahnya adalah, setiap siswa bisa langsung menangkap bila ada kesalahan atau ada bagian kalimat yang kurang pas dan mereka secara spontan akan meneriakkan usul agar kalimat tersebut menjadi lebih baik atau sesuai.

Ini tentu saja di luar dugaan saya. Sungguh tak menyangka sebelumnya bahwa keterlibatan siswa akan begitu tinggi. Mereka begitu antusias untuk terlibat dalam kegiatan ini. Bahkan secara tak sadar mereka , sepertinya, merasa bertanggung jawab agar karya yang muncul di blog benar-benar memuaskan. Maka tak jarang muncul pula perdebatan kecil. Meski terkadang agak riuh, tapi kelas benar-benar hidup.

Live Posting kiranya bisa menjadi salah satu pilihan yang bisa rekan guru gunakan dalam pembelajaran. Dengan sedikit modifikasi, bukan tidak mungkin pelajaran lainpun, karena kebetulan saya mengampu pelajaran Bahasa Indonesia, bisa menggunakannya untuk menghadirkan pembelajaran yang lebih hidup dan bermakna. Anda tertarik? Monggo dicoba!

@Tulisan ini juga dapat dibaca di http://guraru.org (untuk Anda yang peduli dengan pendidikan)

Sisi Hati

Posted on Maret 21st, 2010 in Uncategorized by botaksakti  Tagged

Barangkali tidak semua kita mengerti bahwa hati kita terdiri dari beberapa sisi. Minimal ada sisi jahat dan sisi baiknya. Akan tetapi, sebenarnya ada pula sisi abu-abu di sana. Sisi inilah yang sering membuat kita seakan terjebak bila dihadapkan pada suatu pilihan.

Suatu ketika si Majun bertemu dengan seorang wanita jelita. Rohaya, namanya. Bodi semlohai, full press body, wajah ranum, segar menggoda. Ingin sekali ia melumatnya. Namun di hatinya terbayang istrinya yang setia menunggu di rumah. Apa daya, Majun hanya sempat melempar senyum nakal pada Rohaye. Dan celakanya, Rohaye membalas dengan senyum nakal pula.

Tak lama, sisi abu-abu Majun yang berjalan. Ia gandeng tangan Rohaya. Mereka melangkah dengan riang masuk ke semak-semak pernikahan.

Namun, Majun tak juga bisa menghilangkan bayangan istrinya. Dan pada suatu titik, Majun membuat keputusan untuk melanjutkan barang sekejap dengan Rohaye dan kemudian ia berjanji untuk kebali kepada istrinya.

Dan Majun tak pernah kembali. Ia hanyut dalam dekapan Rohaye. Majun telah terjebak dalam sisi abu-abu dan membiarkan yang abu-abu itu menjadi gelap.

Salahnya Majun adalah, ia lupa bahwa ia punya kesempatan untuk menggunakan sisi terang di hatinya. Hanya saja ia tak mau memutuskannya.

Menghabisi Terorisme ???Ah…gak yakin !!!!

Posted on Agustus 28th, 2009 in Uncategorized by botaksakti  Tagged ,

Perburuan teroris kembali menghangat dengan penangkapan Jibril. Komisi I DPR pun berreaksi. Bahkan, seorang anggotanya “menyalak-nyalak” dengan keras. Entah ia mau jadi pahlawan bagi siapa, tidak jelas.

Melihat kenyataan seperti itu, kalau ada yang mengatakan “yakin” bahwa terorisme dapat ditumpas habis, saya kok kurang sependapat. Nol besar kalau terorisme dapat dibabat habis !Mengapa demikian ?

Salah satu yang tampak dari fenomena terorisme adalah “sepertinya” energi mereka tidak habis-habis. Patah tumbuh hilang berganti.babat sini, muncul di sana. Sulit dibayangkan, bagaimana menggulung mereka itu yang jumlahnya ternyata jauh dari dugaan. Entah berapa biaya yang harus dikeluarkan untuk menggulung mereka.

Namun, agaknya kita lupa. Ilmu pengetahuan telah memberikan jalan keluar yang mungkin bisa digunakan. Masih ingat soal hukum “kekekalan energi” ?Bahwa energi tidak bisa diciptakan dan tidak bisa dimusnahkan?Nah, agaknya untuk mengatasi terorisme hukum ini bisa membantu. Jangan pernah membayangkan energi terorisme bisa dimusnahkan, tapi mungkin kitabisa mengubahnya ke dalam aplikasi yang lain. Bayangkan kalau “energi terorisme” itu kita ubah menjadi “energi patriotik,energi kemanusiaan,energi cinta kasih…dan energi-energi positif lainnya ?

Kehormatan Itu Milik Mereka yang Memberi Hormat

Posted on Agustus 26th, 2009 in Uncategorized by botaksakti  Tagged , ,

“Ijin, Mas . Saya di depan rumah, mohon bertemu.Terimakasih !”

————————————————–

Kalimat di atas saya salin dari sms yang masuk ke hp saya, tadi malam pukul 22.00.Pengirimnya adalah seorang anggota TNI berpangkat Kopda (kopral dua).

Begitu saya bukakan pintu, dua orang teman yang sudah saya kenal memang sudah berada di halaman depan rumah saya. Keduanya anggota TNI, yang usianya jauh lebih muda dari saya. Dengan didahului memberi hormat ala militer, kedua orang itu menyambut uluran jabat tangan saya.

saya kikuk, karena saya hanya seorang guru SMA biasa. Hanya kebetulan usia saya lebih tua dari mereka. Akan tetapi, mendapat perlakuan seperti itu dari mereka, sungguh hati saya tersentuh. Dan tanpa sadar saya ternyata menimpan pengjormatan yang begitu dalam kepada mereka, bukan karena seragamnya tapi karena tingkah lakunya.

Lalu saya berpikir, andai sikap seperti itu terbawa sampai mereka menjadi pimpinan nantinya…..pasti luar biasa. Ternyata, kehormatan itu tidak terletak pada tingginya pangkat atau jabatan, tetapi terletak pada kemampuan membawa diri sendiri. Mereka, tentara “kroco” itu ternyata dapat menyedot hormat saya lebih besar daripada saya menghormati pimpinan-pimpinan mereka yang pangkatnya lebih tinggi.Bravo TNI !!!!!

Menyongsong Pendidikan yang Humanis

Posted on Agustus 25th, 2009 in Uncategorized by botaksakti  Tagged ,

Beberapa hari yang lalu, seorang anak SMA yang bernama She, blogger detik juga, , meledakkan kepenatannya menempuh pendidikan melalui sebuah tulisan yang berjudul “Whatt ????Reformasi Pendidikan dst……”. Dengan kalimat yanglugas khas anak-anak (aslinya memang “pecicilan”) ia menceritakan betapa mengesalkannya pendidikan yang harus ia jalani.

Lontaran anak SMA di atas, mengindikasikan bahwa ada yang tidak beres dengan dunia pendidikan kita. Betapa proses belajarmengajar hanya menghadirkan tekanan yang luar biasa kepada para pelakunya. Kalau mau jujur, sebenarnya bukan hanya siswa yang mengalaminya, tetapi juga guru-gurunya. Guru-guru yang memiliki idealisme dalam mengajar dan bukan sekedar menghabiskan waktu dan terima gaji, tentu akan sangat tersiksa dengan plot pengajaran yang dirancang pihak berwenang.

Sebenarnya, persoalan yang menjadi duri dalam pendidikan tersebut bukanlah berada pada tataran pusat, tetapi justru berada di level daerah. Banyak sekali perangkat pendidikan di tingkat daerah yang sebenarnya tidak menguasai makna sebenarnya tentang pendidikan. Mereka lebih asyik dengan pemahaman birokrasinya. Akibatnya, apa yang sudah dirancang dari pusat bisa saja menjadi lain dalam penerapan di daerah.

Melihat persoalan itu, ada baiknya bila kita menengok sebuah teori pendidikan yang dikemukakan oleh Prof. Driyarkara, bahwa pendidikan adalah sebuah upaya untuk memanusiakan manusia muda. Berdasarkan pengertian ini, maka pendidikan harus dipandang sebagai sebuah proses pendampingan dan bukan penghakiman. Pendidikan adalah sebuah upaya pembebasan dan bukan penindasan. Dengan demikian, pendidikan hendaknya dilakukan dalam suasana yang humanis sehingga menghasilkan pula pribadi-pribadi yang humanis.

Agaknya, era pendidikan yang demikian itu akan segera terjadi. Bergantinya pemerintahan dengan pemerintahan baru cukup memberi harapan. Walaupun presidennya tetap, tetapi menurut kabar yang santer beredar Mendiknasnya akan ganti wajah baru dengan menghadirkan sosok yang lebih “humanis”, yaitu Anis Baswedan. Andai ini benar terjadi, kita patut berharap pendidikan tak lagi penuh dengan hitung-hitungan laba-rugi, seperti yang terjadi selama ini.Trims !Salam buat She….dan semua pecinta pendidikan !

Meraih Indonesia….Lagi

Posted on Agustus 7th, 2009 in Uncategorized by botaksakti  Tagged

Sajak “Sebatang Lisong” yang kembali diperdengarkan saat meninggalnya WS. Rendra, rasanya sangat “pas” dengan situasi bangsa ini. Meski sajak itu ditulis tahun 77 tetapi untuk masa kinipun tampaknya harus diakui masih cukup mewakili.

Sedih memang menyaksikan bangsa ini yang dibanjiri produk impor. Dari bahan makanan sampai “kebijakan”, bau impor begitu menyeruak. Ada di antara kita yang berlomba dan gigih berusaha menegakkan sebuah paham yang sebenarnya bukan asli bangsa kita, padahal kita sendiri memiliki yang serupa bahkan lebih sesuai untuk keadaan kita. Keberagaman kita yang sesungguhnya berkah, justru sering dianggap sebagai jalan untuk mencari kuasa.Sayangnya, hal itu ditempuh dengan mengadu keberagaman itu.

Kesedihan itu semakin dalam manakala kita menyaksikan berapa banyak anak bangsa ini yang gelar akademiknya berderet-deret, tetapi tak satupun karya mereka yang secara nyata mampu membelokkan arah masyarakat dari masyarakat konsumtif ke masyarakat produktif. bahkan, banyak dari kita yang begitu bangga “hanya” dengan predikat itu. Sebut misalnya, mereka yang membentuk “gerombolan” motor tertentu, bukankah itu sebenarnya hanya “budak” dari kapitalisme?

Sepantasnya kita sadari semua itu sebagai faktor yang menjadi kendala kemajuan bangsa ini. Tak sepantasnya kita hanya berserah menjadi bangsa yang menikmati kemajuan, melainkan harus bangkit sebagai bangsa yang berperan dalam kemajuan. Bangkit, dan mari raih….lagi …Indonesia kita !!!!

Main-main ke Kolong Langit

Posted on Juli 30th, 2009 in Uncategorized by botaksakti

seorang anak kecil dengan satu setengah kakinya
terhenyak menatap
pada rangkaian gedung menjulang
dan di benaknya ia bertanya
rumah siapa itu
lalu kepalanya melongok
ke dalam sisi hidupnya
yang kelam
dan ia bertanya
siapa di sana
air matanya menetes
menjangkau langit
mengaduk samudera penegrtian
yang menghitam
karena dendam
(untuk mereka yang buta hati)

Agar iB Syariah Tidak Layu Sebelum Berkembang

Posted on Juli 4th, 2009 in Uncategorized by botaksakti

iB Syariah hingga saat ini terus menunjukkan perkembangan yang menggembirakan. Banyak kalangan yang sebelumnya berkecimpung di dunia perbankan konvensional, berbondong-bondong beralih ke iB Syariah. Sebuah gambaran yang menarik dan menggembirakan kita semua tentunya.

Akan tetapi, hal itu tentu tidak boleh menjadikan para pelaku iB Syariah takabur dan menjadi lengah. Ada pepatah, sesuatu yang gampang didapat atau cepat berkembang akan dapat pula dengan mudah hilang atau terpuruk. Tentu, hal seperti itu bukanlah harapan kita semua. iB Syariah telah nyata-nyata menjadi “penolong” yang mampu menghindarkan kita dari krisis ekonomi, bahkan krisis global sekalipun. Untuk itu, ada beberapa hal yang penting diperhatikan oleh para pelaku perbankan syariah dan tentu saja juga masyarakat pada umumnya.

Merugi dan Merugikan

Salah satu sebab mengapa iB syariah begitu menarik perhatian banyak orang untuk beralih adalah adanya paradigma “merugi dan merugikan” yang berbeda dengan perbankan konvensional. Dalam perbankan konvensional nasabah sering diposisikan sebagai pihak yang harus “sendirian” menanggung rugi bila bank yang bersangkutan menanggung kerugian. Kasus terakhir yang menimpa salah satu bank yang membuat para nasabahnya stress sehingga sampai menari-nari di atas kap mobil agaknya cukup untuk menjelaskan itu. Bank tidak mau tahu bila nasabah harus menanggung kerugian sendiri karena merasa sudah memberikan tawaran bunga yang cukup tinggi. Tawaran bunga yang tinggi tentu saja manjur untuk manarik mereka yang termasuk ke dalam golongan orang-orang “maruk” sehingga tidak memperhitungkan kemungkinan lain yang bisa terjadi. Namun, tentu saja ini bukan semata-mata kesalahan nasabah karena memang tidak ada pilihan lain pada waktu itu.

Berbeda dengan bank konvensional, bank syariah tidak menawarkan bunga yang terlalu tinggi. Bahkan, tidak ada istilah “bunga” di sana karena “bunga” dianggap riba dan haram hukumnya.Sebagai alternatif maka kemudian ditawarkanlah konsep “bagi hasil” yang nyata-nyata menghindarkan para pelakunya dari tindak spekulatif sejak dini. Secara logika, konsep ini betul-betul sangat mengena. Perbankan syariah ibarat menjalin sebuah kerja sama untuk mencapai tujuan bersama dengan masing-masing pihak memiliki resiko yang sama dan akan mendapatkan hasil yang sama

pula bila ternyata usahanya berhasil. Ini tentu lebih terasa nuansa keadilannya. Dengan kata lain, kalau rugi maka akan sama-sama merugi, kalau untung maka akan sama-sama merasakan untungnya. Artinya, tidak ada celah yang bisa membuat salah satu pihak merugikan atau dirugikan oleh pihak lain.

Mental SDM

Betapapun baiknya sebuah konsep namun bila tidak dilaksanakan sesuai aturan mainnya, bukan tidak mungkin justru akan menghasilkan sesuatu yang jauh dari harapan. Demikian pula dengan iB Syariah ini, yang secara konsep sangat sempurna karena merupakan konsep Illahi, tentu tidak akan berjalan baik bila dilakukan oleh orang-orang yang tidak baik.

Agar iB syariah dapat berjalan dengan baik dan membawa manfaat yang baik pula maka harus dilaksanakan oleh orang-orang yang memang memiliki kemampuan baik operasional maupun mental. Secara operasional artinya memiliki kemampuan mengelola perbankan dari sisi teknis, secara mental artinya terjaga moralnya untuk tidak mengubah atau menyiasati aturan-aturan dalam iB syariah demi kepentingan sendiri.

Kejahatan terjadi karena adanya niat dan kesempatan. Agar tidak terjadi kejahatan dalam iB syariah, maka para pelakunya harus melakukan kontrol ketat atas niat masing-masing. Selain perekrutan yang baik bagi para pegawainya, masyarakat nasabah juga harus menjaga agar tidak tergiur oleh iming-iming dan perilaku di luar prinsip-prinsip syariah. Masing-masing harus menjaga itikadnya agar apa yang dinginkan dapat tercapai. Bila semua itu dapat dilakukan maka niscaya iB syariah tidak akan “layu sebelum berkembang” dan dapat terus berkembang menjadi “ikon” perekonomian modern yang melegakan banyak pihak.

Share on Facebook Share on Twitt

Halaman Berikutnya »